Senin, 01 Oktober 2018

Fenomena Gaya Bahasa Anak Muda Indonesia


Negara Indonesia adalah negara yang majemuk. Indonesia memiliki ribuan macam seni dan kebudayaan diantaranya ialah tari, baju daerah dan bahasa. Bahasa merupalan komponen penting dalam kehidupan sehari hari. Tanpa adanya bahasa manusia akan kesulitan untuk berkomunikasi. Oleh karenanya, bahasa merupakan salah satu alat atau media paling penting dalam kehidupan.
Di Indonesia, penggunaan bahasa dalam satu rumpun kebudayaan yang sama hanya akan terjadi di suatu daerah tertentu dan dengan menggunakan bahasa daerah tersebut. Akan warga negara Indonesia seharusnya sadar bahwa Bahasa Indonesia lah yang menyatukan seluruh bahasa daerah tersebut. Perlu diketahui bahwa bahasa merupakan identitas suatu bangsa yang akan memengaruhi bebagai sendi kehidupan mulai dari politik, ekonomi, hukum, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan masih banyak lagi. Maka penggunaan bahasa Indonesia menjadi identitas tersendiri untuk menunjukkan Negara Indonesia.
Generasi muda hendaknya juga harus ikut andil dalam melestarikan Bahasa Indonesia serta harus menunjukkan rasa cinta terhadap Bahasa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka atau lebih tepatnya pada tanggal 28 oktober 1928 di Jakarta, generasi muda Indonesia membuktikan kecintaan mereka terhadap Bahasa Indonesia dengan menuangkannya pada sumpah pemuda. Dari isi sumpah pemuda poin ketiga yang berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia" tidak dapat dipungkiri bahwa generasi muda pada masa itu amat mencintai dan bangga dengan Bahasa Indonesia. Dibalik semua kisah perjuangan pemuda pemudi Indonesia pada masa itu ada sebuah fenomena tersendiri bagi anak muda terutama kaum millenial akhir-akhir ini. Fenomena tersebut adalah tren gaya bahasa anak Jaksel atau Jakarta Selatan yang tengah menjangkiti media sosial. Dan tak bisa dibantah media sosial menjadi salah satu wadah tersendiri bagi generasi muda untuk mengekspresikan dunianya.
Di salah satu media sosial, semenjak beberapa bulan yang lalu ada ribuan kiriman yang membahas fenomena bahasa gado-gado alias campur-campur ala anak Jaksel. Berdasarkan gaya ini seseorang akan menggunakan Bahasa Indonesia yang bercampur dengan Bahasa Inggris disetiap percakapannya. Berikut ini merupakan salah satu contoh bahasa anak Jaksel yang di unggah oleh salah satu akun.
"Meskipun aku udah gak se-young dulu lagi dan aku ketemu orang which is lebih muda than me. Aku tuh literally gak nyangka, jadi kek baru sadar gitu kok keknya aku tuh tetap sama kek dulu gitu. Aku kan ngerasa jadi confuse kek gimana gitu karna aku tuh masih young, wild, and free #AnakJaksel".
Dari beberapa narasumber yakni orang orang yang menggunakan gaya bahasa gado-gado ini, didapat sebuah fakta yang mengejutkan yaitu tak seperti anggapan pada umumnya bahawa si penutur bahasa ini hendak memakai Bahasa Inggris supaya nampak lebih keren namun justru faktanya otak atau pikiran mereka kesulitan untuk mencari kosakata yang sepadan atau sesuai dengan kalimat yang disusunnya.
Miris jika melihat gaya bahasa yang digunakan oleh anak muda tersebut bahkan ada sebagian kalangan yang mencibir gaya bahasa anak Jaksel yang dianggap melecehkan negara dan tidak mencerminkan nasionalisme atau kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Salah satu anggapan yang lazim digunakan oleh para ahli atau pecinta Bahasa Indonesia adalah penggunaan bahasa gado gado atau campuran ini menjadi semacam penanda bagi lemahnya pikiran si penutur bahasa dan ketidakmampuannya dalam menyusun kalimat secara baik dan benar. Semenjak beberapa tahun terakhir penggunaan bahasa gaul sudah tak asing lagi khususnya generasi muda.
Generasi muda sebagai pilar utama dalam kehiduoan berbangsa dan bernegara kini mulai dipertanyakan keberadaannya. Bukan saja ide, gagasan atau pemikiran yang menjadi tolok ukur kemajuan bangsa namun juga pengantar atau bahasa yang dituturkan ikut menjadi bagian penting didalamnya. Semakin lama banyak anak muda yang memakai Bahasa Indonesia dengan seenaknya tanpa mengindahkan norma atau aturan bahasa yang berlaku resmi seperti EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Kini Indonesia membutuhkan kembali rasa bangga sebagai warga negara Indonesia. Warga negara yang amat bangga sebagai orang Indonesia seharusnya juga mencintai Bahasa nasionalnya sendiri yaitu Bahasa Indonesia. Generasi muda Indonesia abad 21 yang benar-benar mencintai Bahasa Indonesia pastilah menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.
 Selain itu generasi muda juga harus berperan aktif dalam melestarikan Bahasa Indonesia dangan lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dari pada bahasa asing. Tak hanya pemerintah dan generasi muda yang menjadi peran utama penggunaan Bahasa Indonesia, peran orang tua juga sangat penting dalam mendidik putra putrinya serta memberikan contoh yang baik menggunakan Bahasa Indonesia. Semua usaha ini demi terwujudnya satu bahasa persatuan yang menjadi identitas atau jati diri dari Bangsa Indonesia yakni Bahasa Indonesia. Untuk itu marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan indah.